Curhat pembuka: bau tinta dan kopi di studio
Kalau kamu pernah duduk di ruang printshop pagi-pagi, sambil nunggu proof keluar, kamu tahu betapa anehnya kenangan itu — bau tinta, kertas basah, dan gelas kopi yang mulai mendingin. Saya juga begitu. Dulu sering lembur nyiapin brosur untuk event, nunggu mesin offset ngeden sambil ngecek warna di monitor. Ada sensasi kecil tiap lihat cetakan pertama muncul: rasanya seperti bayi yang baru lahir, padahal cuma flyer A5.
Mesin cetak: bukan cuma “print” doang
Di dunia cetak ada banyak jenis mesin, dan masing-masing punya kepribadian. Offset masih juara buat jumlah besar karena konsistensi dan biaya per lembar yang turun kalau cetak banyak. Digital (seperti HP Indigo atau mesin toner kelas atas) unggul untuk cetak kecil dan variable data — cocok kalau kamu mau nama tiap undangan beda-beda. Ada juga UV flatbed yang bisa nempel tinta ke benda keras, jadi bisa cetak langsung ke kayu, akrilik, atau label tebal.
Saran kecil dari saya: jangan pilih mesin dulu sebelum tahu tujuan. Mau cetak 1.000 leaflet murah? Offset. Mau 50 undangan dengan nama unik? Digital. Mau packaging dengan finishing mewah? Lihat kemampuan finishing mesinnya juga, bukan cuma bedak tinta.
Tren desain yang lagi ngehits (dan yang saya suka)
Tren desain itu kayak musik—kadang nge-beat, kadang muncul lagi setelah 10 tahun. Sekarang, beberapa yang sering saya lihat di brief klien: tipografi besar dan berani, penggunaan warna gradient yang halus, estetika minimalis dengan ruang putih, dan sentuhan taktil seperti emboss atau foil. Saya pribadi lagi demen kombinasi matte + foil: elegan tanpa berisik.
Selain itu, ada juga tren sustainability: desain yang menonjolkan kertas daur ulang, tinta berbasis air, dan layout yang meminimalkan limbah. Klien muda suka ini karena story-nya kuat. Oh iya, variable design (elemen yang berubah tiap cetakan) juga makin populer karena personalisasi naik daun. Desainer harus mikir bukan cuma “bagus di layar”, tapi “bagus di kertas”.
Nah, ini dia: tips produksi biar hasil nendang
Oke, ini bagian yang sering diminta orang. Beberapa hal praktis yang saya pelajari lewat kesalahan sendiri dan drama proof 03 pagi:
– Siapkan file dengan benar: pakai mode warna CMYK, jangan RGB. Jika perlu warna spot, sertakan Pantone yang tepat. PDF/X-1a atau PDF/X-4 biasanya aman untuk percetakan profesional.
– Resolusi gambar minimal 300 dpi untuk cetak offset. Gambar web 72 dpi itu musuh utama—hasilnya buram dan bikin nyesek.
– Bleed itu sahabat: sediakan bleed minimal 3 mm sehingga saat dipotong tidak muncul garis putih. Jangan taruh elemen penting terlalu dekat ke tepi; gunakan safe area.
– Outline font sebelum kirim kalau kamu ragu penerima punya font tersebut. Ini mencegah substitusi font aneh yang bisa merusak layout.
– Proofing: minta hard proof kalau produksi besar. Soft proof di monitor oke untuk cek layout, tapi warna akhir di kertas sering beda. Kalau mau warna akurat, minta color proof atau strip color dari percetakan.
– Pilih kertas dengan tujuan diingat: coated bikin warna pop, uncoated terasa natural dan cocok untuk tulisan panjang. Stock tebal untuk kartu nama agar kesan premium. Dan ingat, finishing seperti laminasi matte/spot UV/foil emboss bisa mengubah feel total. Saya sering bilang ke klien, “mau murah atau memorable?” Pilih satu.
– Komunikasi sama percetakan itu penting. Datangin mereka, bawa tumpukan referensi, atau cek portofolio online—saran ini sederhana tapi sering dilupakan. Saya sering ngecek vendor di psforpress buat ide finishing dan bahan kalau lagi buntu.
Kesalahan yang sering bikin nangis (dan cara hindarinya)
Beberapa blunder klasik: mengirim file RGB besar, lupa bleed, lupa menjelaskan jenis potong atau lipat, dan berharap warna di monitor sama persis di kertas. Solusinya? Checklist sebelum kirim: mode warna, resolusi, bleed, crop marks, fonts outlined, dan instruksi finishing. Satu lembar checklist bisa nghemat jam kerja dan ribet di jam terakhir.
Di akhir hari, cetak itu soal kolaborasi: desainer, client, dan teknisi mesin. Kalau semuanya ngobrol dari awal, hasilnya jauh lebih baik. Dan kalau mau jujur—ada kepuasan tersendiri waktu buktiin desain di layar jadi nyata di kertas. Rasanya nendang. Selamat mencoba, dan bawa kopi ekstra saat ambil proof jam 2 pagi, percayalah itu berfaedah.